Belakangan ini istilah Internet of Things (IoT) makin marak diperbincangkan, baik dalam acara seminar-seminar di perguruan tinggi maupun oleh para warganet itu sendiri.

Frasa IoT yang semakin familiar tidak bisa dipungkiri sebagai akibat dari pesatnya kemajuan teknologi. Menurut sebuah sumber terpercaya, jumlah pengguna internet di seluruh dunia per Januari 2021 adalah sebanyak 4,66 Miliar pengguna, jumlah yang sangat besar dalam mendukung perkembangan IoT.

Baca juga:
Apa Itu Jaringan Komputer: Pengertian, Jenis dan Manfaatnya
Mengenal Apa Itu Internet: Pengertian dan Sejarahnya

Semakin hari, manusia ingin selalu mempermudah pekerjaannya dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi. Perkembangan IoT selain didukung oleh internet, juga didukung oleh penerapan Big Data Analysis dan kecerdasan buatan.

Lantas, apa sih sebenarnya IoT itu? Jadi IoT adalah gagasan yang dibangun dimana perangkat-perangkat yang selama ini membantu pekerjaan manusia dapat terhubung dalam satu kesatuan sistem terpadu yang dihubungkan oleh internet.

Sungguh suatu gagasan yang besar dan menarik, bukan? Itulah kemungkinan alasan Anda membuka artikel ini, agar lebih mengerti informasi seputar IoT dan gagasan inovasi-inovasinya di masa depan.

Sejarah Perkembangan IoT

Sebelum Anda lebih jauh memahami implementasi dan inovasi-inovasi IoT untuk masa depan, Anda perlu mengenal sejarah perkembangan dari IoT. Sesuai dengan namanya, perkembangan IoT bisa terasa saat ini karena adanya internet.

Dimulai pada tahun tahun 1969, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengembangkan jaringan komputer yang kemudian kita kenal sebagai internet.

Lembaga khusus yang ditunjuk untuk menangani hal tersebut adalah Advanced Research Project Agency (ARPA) yang mengembangkan jaringan yang diberi nama ARPANET atau Advanced Research Project Agency Networking, pada saat itu mereka mendemonstrasikan proyeknya dengan menggunakan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX.

Perkembangan internet kemudian lebih dikenal pada tahun 1989 walaupun baru sebatas di kota-kota besar. Bentuk konkritnya adalah sewaktu John Ramkey yang merupakan seorang peneliti membuat purwarupa alat pemanggang roti yang dapat dikendalikan dengan menggunakan internet.

Tentu jika Anda hidup di zaman itu, Anda bisa sangat terpukau dengan teknologi canggih tersebut. Memang pada waktu itu, ide awal istilah Internet of Things masih belum terucap. Ide awal Internet of Things baru pertama kali dimunculkan oleh Kevin Ashton.

Titik balik ini terjadi pada tahun 1999 sewaktu perangkat-perangkat di sekitar kita sudah bisa berkomunikasi satu sama lain melalui sebuah jaringan seperti internet, artinya pada waktu itu akses internet berkmbang semakin masif.

Gagasan ini dimulai dengan teknologi Auto-ID Center berbasis Radio Frequency Identification (RFID). RFID merupakan identifikasi kode produk elektronik yang belakangan bekembang menjadi alamat Internet Protocol (IP).

Para peneliti dan ilmuwan pada waktu itu berpikir jika semua barang, bahkan manusia, hewan dan tumbuhan dilengkapi dengan alat pengidentifikasi, maka perangkat-perangkat tersebut bisa dikelola secara efisien dengan bantuan komputer.

Pengidentifikasian tersebut dapat dilakukan dengan beberapa teknologi turunan dari RFID seperti kode batang (Barcode), Kode QR (QR Code).

Perangkat-perangkat yang ditanamkan sensor tersebut dirancang untuk selalu aktif terhubung secara luas dengan alamat Internet Protocol (IP) tertentu, seperti yang ada di perangkat komputer dan telepon pintar Anda saat ini.

Manfaat Internet of Things

Sewaktu menciptakan suatu teknologi, tentu ada tujuan kebermanfaatan yang ingin dicapai oleh para pembuatnya. Apa saja manfaat dari IoT?

Pertama, IoT bermanfaat untuk memudahkan proses konektivitas antar perangkat. Perangkat teknologi yang banyak jika masih dioperasikan secara konvensional akan menghambat waktu opersional. Kedua, sebagai tindak lanjut dari adanya konektivitas antar perangkat, IoT akan mendatangkan manfaat efisiensi.

Adanya peningkatan konektivitas antar jaringan perangkat yang terbentuk, membuat semakin kecil jumlah waktu yang terbuang untuk menjalankan tugas, hal ini membuat aktivitas dan kinerja manusia menjadi lebih terbantu. Manfaat ketiga adalah meningkatnya efektivitas monitoring pekerjaan.

Contoh Implementasi IoT di Masa Kini

Didukung dengan perkembangan kecerdasan buatan dan Big Data Analysis yang semakin baik, sudah banyak implementasi dari IoT yang kita bisa nikmati dalam kehidupan sehari-hari baik secara sadar maupun tidak.

Penelitian yang dilakukan oleh Gartner memprediksi sekitar 5,5 Juta barang atau perangkat baru yang terkoneksi ke internet.

Perangkat-perangkat tersebut di antaranya adalah pendingin ruangan, papan informasi interakif, jam tangan hingga gelang olahraga. Contoh implementasi IoT pada skala jaringan antara lain sebagai berikut:

1. Pemantauan Kedatangan Bus

Bagi sebagian besar orang, menunggu adalah kegiatan yang membosankan. Kondisi itulah yang mungkin menjadi alasan lahirnya teknologi pemantauan posisi dan kedatangan bus.

Pertanyaannya, apakah teknologi ini sudah ada di Indonesia? Ternyata sudah ada. Rupanya sejak tahun 2017 lalu, TransJakarta sudah bekerja sama dengan Google untuk membangun IoT sederhana untuk memantau posisi bus TransJakarta.

Berkat fitur baru di Google Maps ini, pengguna seperti Anda bisa memantau kapan kedatangan sebuah bus di halte sasaran.

Hal ini bisa berjalan karena IoT mengintegrasikan Global Positioning System (GPS) yang tertanam di dalam bus dengan kecerdasan buatan yang dimiliki oleh Google Maps.

2. Pendeteksi Potensi Gempa

Beberapa tahun belakangan, tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan teknologi Early Warning System (EWS) untuk memprediksi kemungkinan terjadinya gempa dalam waktu 3-14 hari lebih cepat dari kemungkinan waktu terjadinya gempa.

Ini mungkin saja dilakukan berkat kecerdasan buatan berupa sensor yang mampu mendeteksi frekuensi tidak normal dari pergerakan tektonik di dalam bumi.

Melalui big data, informasi ini dapat diolah menjadi notifikasi bahaya yang bisa didapat melalui telepon pintar Anda. Sayangnya, teknologi yang sebenarnya memberikan angin segar bagi negara dengan potensi gempa bumi intensitas tinggi seperti Indonesia masih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.

3. Pemantau Kualitas Kopi

Sudah tidak bisa dipungkiri, kopi merupakan minuman yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Tanpa kenal waktu, baik pagi, siang, bahkan di waktu malam, banyak di antara kita, bahkan mungkin Anda juga, senang untuk meminum kopi.

Menurut data dari International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi masyarakat Indonesia pada 2018-2019 sebanyak 4.800 kantong kopi berkapasitas 60 kilogram atau 288 ton.

Konsumsi kopi yang banyak tersebut, mendorong lahirnya produk IoT berupa Smart Coffee Monitoring untuk memantau kualitas biji kopi pasca panen. Produk yang tepat guna dan dapat membantu pelaku usaha di bidang olahan kopi untuk menjaga kualitas kopinya.

Beberapa Inovasi Masa Depan Berbasis IoT

Arah pertumbuhan Internet of Things di Indonesia bertumbuh secara sehat. Kendati pertumbuhan di sektor consumer masih belum begitu memuaskan, pemanfaatan pada beragam bidang lainnya masih memiliki tren pertumbuhan yang baik.

Kehidupan manusia sehari-harinya dapat semakin optimal dan dipermudah dengan penggunaan sensor cerdas dan peralatan pintar yang berbasis internet ini.

Lebih lanjut penerapan IoT yang sedang dikembangkan sebagai bentuk inovasi masa depan antara lain sebagai berikut:

1. Internet Super Cepat

Inovasi pertama yang perlu disiapkan adalah internet yang memiliki kecepatan yang maksimal. Bisa dibayangkan tanpa kecepatan internet yang super cepat, tantangan mewujudkan inovasi IoT akan sulit terwujud.

Saat ini negara-negara maju sudah memiliki teknologi internet 5G yang kecepatan internetnya bisa mencapai 20 Gbps. Indonesia pada tahun 2021 ini juga sudah mulai melakukan uji coba internet 5G di beberapa kota.

2. Teknologi Rumah Pintar

IoT yang dikembangkan di cluster-cluster permukiman ini menjadi inovasi masa depan dalam penataan Kawasan permukiman yang berkelanjutan. IoT pada bidang ini sedikit demi sedikit mulai berkembang di lingkungan permukiman-permukiman baru yang tumbuh di kota-kota besar.

Penerapannya sejauh ini berupa pengaturan penggunaan energi rumah tangga secara real time. Teknologi ini bisa diterapkan karena semakin banyak perangkat rumah tangga seperti televisi, outlet dan switch listrik

3. Otomatisasi Teknik Pertanian

Indonesia masih memiliki potensi lahan pertanian, baik potensi lahan konvensional, maupun potensi pertanian di lahan terbatas. Permasalahan utama di bidang pertanian adalah produktivitas lahan yang rendah.

Masalah ini timbul disebabkan oleh faktor-faktor seperti penurunan kesuburan tanah, kendala cuaca, hingga serangan hama.

Permasalahan-permasalahan tersebut sebenarnya memiliki pola tahunan, sayangnya masih belum banyak petani yang menerapkan metode pencatatan untuk merangkum pola temporal dari permasalahan-permasalah tersebut.

Inovasi IoT yang terintegrasi dengan teknologi analisis big data dapat membantu percepatan otomatisasi teknik pertanian.

Otomatisasi teknik pertanian juga tercermin dalam bentuk pemupukan secara presisi. Masing-masing permasalahan dapat dianalisis dengan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan untuk menciptakan sistem yang terbaik.

4. Smart City Integrated

Penggunaan IoT membuka peluang potensial untuk membuat kota-kota di dunia, khususnya di Indonesia menjadi semakin fungsional, terarah dan nyaman bagi masyarakat setempat maupun para pelancong yang berkunjung. Saat ini program smart city terus digalakkan di kota-kota besar di Indonesia.

Penerapan IoT untuk mendukung smart city mulai diterapkan di sektor transportasi yang contohnya sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Contoh lainnya terlihat dari penerapan tilang elektronik.

Sistem kota cerdas yang terintegrasi ini menyatukan aspek pemerintahan, aspek transportasi, lingkungan, energi, dan elemen-elemen lainnya mulai dari tingkat rumah tangga sampai ke pelayanan publik. Sungguh tidak sabar menunggu konsep ini dapati diterapkan sepenuhnya di Indonesia.

Kebijakan IoT Pemerintah Berbagai Negara

Internet of Things memerlukan sumber daya yang tidak sedikit agar dapat diimplementasikan di kehidupan sehari-hari untuk menyesuaikan zaman. Kondisi tersebut menyebabkan perlunya kebijakan-kebijakan yang memberikan dukungan terhadap IoT.

Era digitalisasi yang merebak ke seluruh dunia menyebabkan setiap negara mau tidak mau harus ikut menyesuaikan agar tidak tertinggal dengan negara lain. Bagaimana negara-negara di dunia memandang IoT melalui kebijakan-kebijakan yang mereka buat?

Negara Asia yang mulai gencar meningkatkan penerapan IoT di kota-kota mereka mulai menyusun kebijakan-kebijakan pendukung. Misalnya India yang mengeluarkan dokumen kebijakan IoT untuk menargetkan pangsa pasar IoT senilai kurang lebih USD 15 Miliar pada tahun 2020.

Langkah tersebut diawali pada sektor industri otomotif, seperti yang dilakukan oleh Tata Motors. Perusahan otomotif terkemuka di India ini mulai memasang sensor ke dalam mobil dan truk yang mereka produksi.

Diikuti dengan membangun model layanan purna jual berupa informasi lengkap kondisi kendaraan yang mereka gunakan secara berkesinambungan untuk memprediksi potensi kerusakan pada kendaraan tersebut.

Negara Asia lain yang juga getol mengembangkan IoT adalah China, bahkan sejak tahun 2009 China sudah mengalokasikan dana jumbo untuk membangun kota cerdas berbasis IoT.

Indonesia sendiri sudah memiliki lebih dari 140 Juta pengguna internet, penggunanya mayoritas berada di rentang usia 16-25 tahun.

Pengguna internet di Indonesia yang didominasi oleh generasi muda menjadi aspek penguat potensi pengembangan Internet of Things dan keberlanjutan dari inovasi-inovasi bagi masa depan.

Demikianlah gambaran tentang Internet of Things (IoT) dan Penerapan Inovasi-Inovasinya, semoga dapat meningkatan pemahaman Anda terkait hal ini.

Comments are closed.