Suara burung merupakan salah satu suara terindah di dunia yang mampu membawa ketenangan dan kedamaian. Tidak heran, banyak pecinta burung yang memelihara banyak jenis sekaligus agar bisa menikmati indahnya kicauan peliharaan mereka sepanjang hari.

Burung sendiri termasuk ke dalam hewan vertebrata kelas Aves. Di dunia, ada setidaknya 10.200 spesies burung yang masih hidup saat ini. Dari semua spesies tersebut, ada 1.594 burung yang bisa ditemukan di Indonesia.

Tidak semua spesies burung memiliki kicauan yang indah. Umumnya, burung yang dipelihara hanya memiliki bulu dan rupa indah, tapi belum tentu punya suara unik serta merdu.

Sekilas Tentang Suara Burung

Suara burung pada burung kicauan merupakan jenis suara berupa hasil peniruan suara lain (mimikri) dan merupakan hasil variasi olahan vokal. Kicauan pada beberapa spesies burung mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan variasi suara berbeda-beda.

Suara indah yang dikeluarkan oleh burung ini bertujuan untuk menarik perhatian bagi lawan jenis. Selain untuk menarik perhatian calon pasangan, umumnya kicauan ini digunakan untuk mengungkapkan eksistensi serta mempertahankan wilayah kekuasan.

Sejatinya, burung betina pun mampu mengeluarkan kicauan, namun suara yang dihasilkan tidak seindah suara burung jantan. Oleh sebab itu, hampir semua burung kicauan yang dipelihara merupakan burung pejantan.

Burung mulai belajar berkicau sejak masih masa anakan (piyik). Di masa-masa tersebut, ia akan mulai belajar mengucapkan beberapa irama suara hingga seiring bertambahnya usia, variasi irama suara yang dihasilkan pun semakin kompleks dan indah.

Maka dari itu, apabila Anda ingin memaster burung, maka disarankan untuk mencobanya saat masih berusia muda. Hal ini karena di usia tersebut burung masih giat belajar serta lebih mudah memahami berbagai jenis suara sehingga bisa menirukannya.

Pemasteran burung berkicau merupakan sarana melatih burung agar mampu meniru atau mendoktrin kicauan burung lain sesuai yang ia didengar. Umumnya, memaster hanya dilakukan untuk burung yang sejenis, namun ada juga beberapa spesies burung yang mampu menirukan variasi lagu dari spesies burung lain.

Jadi, bila Anda memiliki burung kicau dan ingin agar ia memiliki suara yang indah begitu dewasa, maka lakukanlah masteran sedari kecil. Jika melakukan masteran saat sudah dewasa, tentu nantinya pemasteran akan kurang maksimal.

Tipe Suara Burung yang Perlu Anda Ketahui

Berdasarkan data ilmiah, burung mampu menghasilkan berbagai variasi suara dengan tipe yang berbeda satu sama lain. Hampir semua jenis burung memiliki variasi tipe suara ini, bukan hanya burung kicau saja. Nah, berikut beberapa tipe suara burung yang mesti Anda tahu:

1. Call (Suara Panggilan)

Suara panggilan merupakan jenis suara burung yang berupa vokalisasi sederhana dengan ciri khasnya yaitu kicauan singkat dan berulang yang dilakukan saat terbang, hinggap di dahan pepohonan dan saat datang ke tempat yang baru pertama kali dikunjunginya.

Jenis suara ini digunakan untuk bersahutan satu sama lain untuk menginformasikan keberadaannya. Khususnya bagi burung yang hidup secara berkelompok atau biasa disebut juga sebagai koloni burung.

Namun, untuk burung yang hidup secara menyendiri sering kali tidak memiliki suara panggilan semacam ini karena untuk menghindari dari buruan pemangsa. Akan tetapi bagi burung pemangsa, suara ini justru digunakan untuk mendominasi hewan lain.

2. Song (Suara Kicauan)

Suara kicauan merupakan jenis suara burung spesies tertentu yang memiliki vokalisasi panjang, unik dan kompleks sehingga indah didengar layaknya mendengar orang bernyanyi. Karena itulah jenis suara ini disebut juga sebagai song yang berarti lagu.

Beberapa jenis burung mampu mempelajari lagu-lagu baru yang didengarnya misalnya jenis burung paruh bengkok seperti beo, burung pipit serta burung finch. Jenis burung ini memiliki memori tajam dan kuat untuk mempelajari dan mengingat lagu-lagu yang didengarnya selama hidupnya.

Setiap spesies burung memiliki pengulangan suku kata kicauan (syllables) yang berbeda-beda. Di antaranya ada suku kata tunggal dan suku kata variasi. Burung dengan suara yang bervariasi akan menghasilkan elemen variasi lagu yang unik dan beragam. Karena itulah seringkali diadakan kontes kicau burung untuk mengetahui variasi kicauan yang unik.

3. Alert (Suara Peringatan)

Suara ini digunakan untuk memperingatkan hewan lain terkait adanya bahaya yang mengancam. Biasanya, rangkaian suara peringatan yang dikeluarkan oleh sebagian besar spesies burung ialah berupa vokal pendek dengan tempo yang cepat dan suara yang keras.

Suara peringatan umumnya digunakan sebagai komunikasi antar burung dalam satu spesies saja. Namun, terkadang spesies lain atau bahkan hewan lain (non burung) pun ikut mengerti terkait ancaman bahaya yang terjadi di lingkungan sekitarnya saat mendengar suara peringatan tersebut.

Burung tidak hanya mengeluarkan suara ini saat dia yang terancam bahaya, namun saat ada hewan lain yang terancam bahaya besar, mendengar suara mengerikan atau melihat sesuatu yang janggal pasti akan memberikan suara peringatan.

Jenis-Jenis Burung Kicau Populer di Indonesia

Tak hanya memiliki wujud yang indah, burung kicau juga memiliki suara yang unik nan merdu sehingga kerap ditampilkan dalam ajang perlombaan burung oleh masyarakat. Berikut daftar jenis burung kicau yang perlu Anda tahu:

1. Burung Kacer

Burung Kacer identik dengan bulunya yang berwarna hitam berkilau dengan corak putih pada sayap, ekor dan bawahnya.

Selain lincah, burung ini pun memiliki suara merdu yang mampu menirukan suara di sekitarnya. Karena itulah Kacer menjadi idaman para pecinta burung kicau.

2. Burung Pleci

Bagi yang suka burung dengan kicauan yang tiada henti, maka pleci bisa jadi pilihan tepat untuk Anda pelihara. Di ajang perlombaan, burung ini pun kerap diadu sebagai burung pendatang baru atau bahkan ada yang menyebutnya sebagai artis dadakan.

Walaupun memiliki tubuh yang kecil, namun burung ini terlihat cantik dengan bulunya yang berwarna hijau muda dengan mata yang terdapat bulatan putih di sekelilingnya. Karena itulah burung ini sering dinamai sebagai burung kacamata.

3. Burung Gelatik

Selanjutnya ada burung yang sangat populer di kalangan pecinta burung yakni burung gelatik. Dengan ciri khasnya berupa suara yang keras nan melengking, burung ini pun kerap diperlombakan.

Dari segi harga, burung ini pun tidak terlalu mahal. Jika Anda membelinya di toko burung, maka harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 100 – 500 ribuan.

4. Burung Cendet

Cendet merupakan jenis burung yang memiliki banyak nama. Di antaranya ialah plentet, pentet, betet, betet toet, cender dan lainnya.

Burung ini memiliki tampilan yang indah dengan perpaduan warna antara putih, coklat keemasan, hitam dan perak. Jadi, selain dijadikan burung kicau juga bisa dijadikan sebagai burung hias.

5. Burung Kenari

Di bandingkan burung lain, kenari memiliki ciri khas suaranya yang unik dan beda dari burung manapun. Karena itulah para pecinta burung biasanya menamai istilah suara kenari dengan ngeriwik.

Kenari memiliki warna kuning cerah serta ukuran tubuh yang kecil dan ramping. Walau begitu, pergerakannya tidak seaktif jenis burung lainnya.

6. Burung Murai Batu

Salah satu burung yang menjadi primadona di kalangan pecinta burung kicau ialah murai batu. Dengan kicauannya yang super merdu dan mampu menirukan suara burung lain, maka burung ini seakan menjadi artis di kalangan burung kicau lainnya.

Harga yang ditawarkan burung ini pun bisa mencapai jutaan, terlebih bila pernah memang kontes kicau, maka harganya pun bisa naik berkali-kali lipat dibandingkan burung lainnya.

7. Burung Panca Warna

Dinamakan sebagai panca warna ialah karena burung ini memiliki 5 warna berbeda di sekujur tubuhnya. Warna tersebut meliputi hitam, kuning, jingga, merah dan biru abu-abu. Kombinasi warna tersebut menghasilkan pesona yang begitu indah bagi burung ini.

Di beberapa daerah, burung yang memiliki tampilan indah ini disebut juga sebagai burung robin. Suara yang dimilikinya pun memiliki pesona keunikannya sendiri. Karena itu, Anda harus memiliki burung satu ini bila mau dianggap sebagai seorang pecinta burung.

8. Burung Cucak Rowo

Burung Cucak Rowo begitu terkenal di kalangan pecinta burung, karena itulah burung ini bahkan dimasukan ke dalam sebuah lagu “Cucak Rowo” yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal yakni Didi Kempot.

Karakteristik dari burung ini ialah suaranya yang keras dan juga jernih. Sayang, proses perawatannya terbilang sulit. Demikian juga untuk mendapatkan anakannya. Tak heran, harganya mahal.

9. Burung Cucak Ijo

Walau tidak sepopuler Cucak Rowo, namun burung ini pun menjadi primadona di hati para pecinta burung. Selain suaranya yang indah, bulunya yang dipenuhi warna hijau dan biru di sebagian sayap dan ekornya pun membuatnya tampak begitu eksotis.

Cucak hijau jarang dibudidayakan. Kebanyakan di antaranya hanya di buru di kawasan hutan. Beberapa habitat Cucak Hijau ialah berada di hutan Banyuwangi, Bali, Sumatera dan Kalimantan. Namun, yang paling sering diburu ialah yang dari Banyuwangi karena memiliki suara yang unik.

10. Burung Kolibri

Burung penghisap madu ini memang jarang dibudidayakan karena sulit didapatkan, namun beberapa tahun ini kolibri sempat ngehits dan banyak dilirik oleh para pecinta burung.

Kolibri memiliki warna bulu yang begitu cantik dengan kepakan sayapnya yang super esktra cepat sehingga hampir tidak terlihat oleh mata kita. Dari segi suaranya pun cukup bagus walau tidak sebagus burung kicau lainnya.

11. Burung Anis Merah

Sering kali, Anis Merah disebut sebagai kuda hitamnya burung kicau. Selain langka, burung ini pun lumayan sulit dibudidayakan sehingga kebanyakan burung yang dipelihara merupakan hasil tangkapan dari alam liar.

Walau dinamakan sebagai Anis Merah, namun burung ini tidaklah berwarna merah, melainkan perpaduan antara kuning dan abu-abu. Selain itu, suara burung ini pun mampu menyaingi jenis burung lain sehingga biasa diikutsertakan dalam kontes kicau. Untuk harganya sendiri pun burung ini mencapai 1 jutaan, terlebih untuk burung yang memenangkan kontes, tentu lebih mahal lagi.

12. Burung Anis Kembang

Sama seperti Anis Merah, burung bernama Anis Kembang ini pun memiliki suara yang begitu merdu dan nyaring. Sayangnya, burung ini sangat pemalu sehingga hanya berbunyi saat sedang tidak ada orang di sekitarnya atau saat sedang hujan lebar saja.

Secara tampilan fisik, antara Anis Merah dan Anis Kembang memang sama saja. Hanya saja, corak warna yang dimiliki Anis Kembang ini lebih unik di mana terdapat perpaduan corak warna hitam, putih, cokelat dan kuning di seluruh tubuhnya.

13. Burung Lovebird

Lovebird tergolong sebagai burung paruh bengkok yang terkenal akan kecerdasannya. Burung ini biasa dipelihara karena corak bulunya yang indah serta mudah dalam hal perawatannya. Kombinasi warna bulunya yang berbeda antara burung satu dengan burung lainlah yang membuat love bird bisa dihargai hingga jutaan rupiah.

Dari segi suaranya, memang kicauan burung ini tidak seunik burung lainnya karena tidak memiliki variasi suara yang banyak. Walau begitu, burung ini bisa sangat imut dan penuh kelucuan saat Anda memeliharanya.

Pemasteran Pada Burung Kicau Mulai dari Piyik (Anakan)

Pemasteran burung pertama kali diteliti pada tahun 1958 yang dipelopori oleh seorang peneliti bernama Willian Thorpe dengan dinamakan sebagai riset “Thorpe 1958”. Dalam riset ini, dilakukan sebuah eksperimen berupa pemeliharaan burung spesies Fringilla coelebs atau biasa disebut sebagai burung chaffinch.

Penelitian ini dibagi menjadi 2 metode. Pertama, salah satu burung dibesarkan di laboratorium sejak anakan tanpa diperkenalkan dengan suara kicauan burung lain. Sementara burung lain (dari spesies yang sama), sejak anakan diperkenalkan dengan dengan suara rekaman audio masteran burung chaffinch liar dewasa.

Dari hasil penelitian ini, burung yang tidak diperdengarkan kicauan burung melalui audio masteran memiliki kicauan dengan vokal yang abnormal. Sementara burung yang sejak kecil sudah diperdengarkan, mereka mampu menirukan burung dewasa dengan sempurna baik vokal maupun variasi suaranya.

Sejak saat itulah, perlakuan pemberian audio masteran pada burung kicau sejak masih piyik (anakan) mulai dilakukan oleh para pecinta burung. Bahkan, banyak pecinta kicau di Indonesia yang melakukan metode pemasteran semacam ini mulai dari saat burung baru menetas (trondol / trotolan) karena dianggap hasilnya lebih memuaskan.

Bagaimana Burung Berkicau?

Burung bisa berkicau berkat sebuah organ yang dinamakan sebagai syrinx yang memiliki struktur bipartit yang posisinya berada di antara batang tenggorokan (trakea) dan bronkus (percabangan trakea).

Srinx inilah yang akan menentukan hasil vokal yang diucapkan oleh burung. Cara kerjanya ialah dengan memberi tekanan pada aliran udara yang mengalir dari paru-paru. Oleh sebab itu, semakin kuat paru-paru burung tersebut maka semakin jernih dan panjang lagu yang dikicaukannya.

Dalam fase sensorimotor (saat awal masa muda), burung mampu menghasilkan suara yang disebut dengan “subsong”. Nah, subsong ini akan menghasilkan variabel, suara generik dan vokalisasi tenang yang mirip dengan suara orang yang menggerutu.

Setelah itu, burung mulai belajar menghasilkan suara yang lebih jelas, lebih panjang, serta lebih keras. Di pertengahan fase ini, burung mulai menghasilkan suara yang lebih terstruktur, lebih stabil dan lebih mengkristal sesuai dengan suara masteran yang didengarnya.

Jika suara vokalnya sudah stabil, maka burung akan mencoba mengembangkan lagu-lagunya sendiri sesuai karakter, irama dan nada yang berbeda-beda. Semakin banyak suara masteran yang didengar, maka burung akan lebih banyak belajar mengembangkan lagu barunya.

Pemasteran Menggunakan Speaker Masteran Suara Burung Dewasa

Tak hanya manusia, burung pun memiliki dialek suaranya yang berbeda-beda. Bahkan, satu spesies yang sama yang hidup dalam waktu yang sama dan di lingkungan yang sama pun akan menghasilkan dialek suara yang berbeda.

Hal semacam ini pernah diteliti oleh seorang pecinta burung bernama Peter Marler beserta kawan-kawan. Dalam riset yang dilakukannya disimpulkan bahwa burung mampu mempelajari vokal dan notasi yang spesifik dan rumit asalkan ia belajar di periode sensitif yakni saat masih anakan atau saat fase sensorik.

Oleh sebab itu, proses pemasteran yang dilakukan menggunakan audio masteran suara burung harus dilakukan sejak burung dari kecil. Dengan begitu, kelak nantinya burung tersebut mampu menghasilkan suara yang kompleks dan dialek yang unik layaknya suara yang didengarkannya.

Proses pemasteran ini akan melalui dua tahapan yang dilalui oleh burung saat mereka mempelajari lagu dan vokal baru, berikut di antaranya:

  • Fase Sensorik: burung akan mendengarkan audio masteran lalu karena terbiasa mereka secara tidak sadar akan menghafalkannya dalam bentuk memory auditory di dalam otaknya. Proses penghafalan ini akan bekerja secara efektif jika burung dalam fase sensorik.
  • Fase Sensorimotor: di tahap kedua, burung akan melakukan proses penerjemahan memory auditory tersebut ke dalam aktivitas motorik. Proses ini dilakukan melalui beberapa cara, misalnya dengan membandingkan vokal suara miliknya dengan audio, berlatih berkicau, kemudian menyempurnakannya.

Perlu Anda tahu, tidak semua burung bisa dilakukan proses pemasteran menggunakan audio MP3 masteran. Misalnya burung yang biasa hidup di alam liar, mereka tidak mengikuti spesies burung lain padahal setiap hari mendengarkan suara mereka bukan?

Jadi, setiap spesies burung memiliki kemampuan bawaan yang berbeda-beda dalam menentukan antara lagu dalam spesies yang sama maupun dalam spesies yang berbeda.

Teknik Memaster Burung Kicau yang Harus Anda Tahu

Memaster burung kicau biasa dilakukan oleh pecinta burung menggunakan perangkat khusus berbasis elektronik yang frekuensinya bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan. Perangkat ini mampu menghasilkan suara burung asli yang gacor dengan irama yang bervariasi.

Sayangnya, perangkat masteran burung dan audio masteran semacam ini mahal harganya. Jika budget kita terbatas, tentu akan kesulitan untuk membelinya bukan? Maka dari itu, Anda dapat melakukan pemasteran melalui audio mp3 berkualitas HD. Berikut langkah-langkahnya:

  • Siapkan audio masteran burung yang berupa file MP3 dari situs penyedia audio. Bisa beli Speaker Masteran Burung Disini!
  • Gunakan speaker bervolume besar dengan impedansi 4 ohm.
  • Setingan pre-amp pada equalizer harus sejajar (di ubah ke mode flat).
  • Pastikan kualitas audionya HD, Anda bisa memperjelasnya lagi dengan sofware tambahan.
  • Jika suara banyak noise, gunakan software editing seperti Cool Edit dan gunakan fitur “Remove Noise”.
  • Untuk suara yang kurang beraturan, Anda bisa mengubah efek suaranya menjadi “Normalize”.
  • Putar audio mp3 masteran sesuai dengan spesies burung milik Anda masing-masing selama 10 menit.
  • Jeda selama 3 – 5 detik kemudian disambung dengan audio masteran burung spesies lain dan putar selama 10 menit.
  • Setelah 10 menit, jeda lagi selama 3 – 5 detik kemudian putarkan audio masteran spesies yang berbeda lainnya.
  • Ulangi langkah tersebut seterusnya sampai setidaknya 1 jam. Jika sudah, maka beri makan burung dan biarkan istirahat lalu coba lagi di sore harinya.

Dengan rutin melakukan pemasteran sehari dua kali sejak burung masih piyik, maka burung tersebut akan beradaptasi dengan suara-suara burung tersebut. Yang terpenting, gunakan audio berkualitas serta speaker berkualitas tinggi dengan impedansi sebesar 4 ohm.

Nah itulah informasi yang bisa kami berikan seputar suara burung beserta langkah-langkah melakukan pemasteran. Semoga bermanfaat dan salam kicaumania!

Comments are closed.